Rabu, 27 Mei 2015

Ketahanan Nasional Dalam Bidang Sosial Budaya

Membantu Dalam Serba Kekurangan
Oleh: Edna C Pattisina
(Kompas, Minggu 10 Mei 2015)

Ketika Negara terseok-seok menguruswarga di batas-batas negeri,muncul sosok-sosok yang mengulurkan tangan. Mereka tidakbanyak bicara.mereka bekerja dan berusaha memberi makna bagi sekitarnya.
Dudi krisnadi awalnya terobsesi pada banyaknya orang kurang gizi di sekitarnya. Pria asal Padalarang yang kini menetap di Blora ini kemudian menemukan bahwa tanaman kelor bias menjadi solusi. Kelor punya kandungan gizi yang tinggi.
“Saya sebal dan penasaran karena di masyarakat Jawa, kelor itu selalu dikaitkan dengan dunia magis,” kata Dudi. Ia lalu mencari literature. Salah satu temuannya terkait dengan asal-muasal kelor dari India. Kasta-kasta yang tinggi tidakingin kelor habis dikonsumsi jelata. Oleh karena itu, dibuatlah stigma yang menakut-nakuti tentang kelor yang terbawa sampai ke Indonesia. Namun, Dudi tidak putus asa. Iadengan usaha sendiri dengan mengampanyekan kelor lewat www.kelorina.com. Tak disangka ada banyak yang tertarik, termasuk dari Korea dan Malaysia.
Berkat website dan aktivitasnya, Dudi lalu dianggap sebagai penyedia kelor. Tak direncanakan sama sekali,iamenjadi pengusaha kelor, mulai memenuhi kebutuhan teman-teman dalam orderan kecil sampai kini ia sudah ekspor ke Korea dan Malaysia. “Ada kebutuhan ekspor 100 ton perbulan yang belum bisa terpenuhi,” katanya.
Tahun 2012, ketika Menteri BUMN Dahlan Iskan dan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono bekerja sama untuk percepatan pembangunan di perbatasan, Dudi diminta sebagai pembicara tentang kelor pada masyarakat di Perbatasan. Belakangan, kerjasama itu berhenti begitu saja. Dudi lalu dikontak oleh Danrem Wirasakti Kupang NTT Brigjen Achmad Yuliarto. Achmad yang rupanya juga melihatbahwa masyarakat NTT jugaterbiasa menanam kelor meminta Dudi membantu. “Saya disuruh ngajarin dari nanam, konsumsi, bikin produk sampai jualan ke masyaraka,” katanya.
Dudi mengakui, hal ini tidakmudah karena membalik persepsi dan budaya masyarakat hanya terbiasa menanam, lalu merebus daun kelor untuk makan sehari-hari. Mereka pun puas dengan menjual daun kelor basah seharga Rp 5.000 per kg. Padahal kalau dijual dalam kondisi kering siap diolah jadi produk berikutnya, harganya bias mencapai Rp 45.000. Namun, syaratnya, daun harus segera dikeringkan maksimal empat jamsetelah dipetik. Ini berarti harus ada alat pengeringdi dekatladang.
Dudi akhirnya banting setir. Dari mengajar, ia menjadi pengusaha dengan membeli alat pengering Rp 17 juta dan menyewa tanah untuk lahan pengeringan. Ia juga yang membeli produk langsung dari masyarakat. Ia mengambil resikocukup besar karena ada kecenderungan masyarakat tidak konsisten, termasuk jam kerja yang bias berubah-ubah. “Menurut saya, masalah utama di sumber daya manusia. Saya harap, kalau mereka sudah terbiasa, aka nada orang lain juga yang mau investasi disini,” katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar